Laporan kalau Cina mungkin sudah menguji rudal hipersonik baru sudah menarik atensi dunia. Laporan ini pula merangsang kekhawatiran dari ahli keamanan Amerika Serikat( AS).

Laporan Financial Times mengatakan bila rudal hipersonik Cina meluncur mengelilingi bumi dalam orbit rendah saat sebelum kembali ke zona sasaran di Cina. Tetapi rudal tersebut melenceng sepanjang 2 mil dari sasaran.

Perkembangan tersebut tingkatkan mungkin perlombaan senjata buat suatu konsep serta teknologi yang apalagi cuma sedikit orang yang sempat mencermatinya. berita dairi

Idenya merupakan kalau glider dipasang di atas rudal balistik memakai kekuatan roket buat menggapai kecepatan hipersonik, lebih dari 5 kali kecepatan suara, dikala mereka meluncur serta bermanuver lewat suasana buat jarak yang lebih jauh daripada rudal balistik.

Diyakini kalau sebab glider melaksanakan ekspedisi di ketinggian yang lebih rendah daripada hulu ledak yang diluncurkan dari rudal balistik antar daratan( ICBM), sistem peringatan dini dikala ini hendak kesusahan melacaknya dikala rudal tersebut mengarah sasaran.

Rudal itu susah dilacak sebab kendaraan luncur bisa bermanuver di suasana, tidak semacam hulu ledak balistik yang menjajaki lintasan senantiasa, yang berarti mereka bisa meliuk- liuk di dekat sistem rudal pencegat berbasis darat.

” AS dikala ini tidak mempunyai keahlian buat melacak senjata ini, terlebih mengalahkannya,” kata Steve Ganyard, pensiunan kolonel Marinir serta kontributor ABC News.

AS sendiri sudah meningkatkan program senjata hipersoniknya sendiri, namun baik Rusia ataupun Cina sudah mengklaim kemajuan teknologi yang mereka katakan sudah membuat program mereka telah beroperasi.